Minggu, 08 Juni 2014

Tafsir Surat An-Naba’ 17-20: Gambaran Hari Perhitungan di Akhirat (1)

Jika pada tafsir surat An-Naba’ ayat 1-16 dibicarakan tentang keraguan orang-orang kafir dan musyrik Quraisy tentang al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah Saw. kepada mereka. Termasuk di dalamnya, tentang ketidakpercayaan mereka akan adanya hari kebangkitan setelah mati.

Lalu oleh Allah Swt. dijelaskan kekuasaan-Nya menciptakan bumi dan langit serta segala isinya yang dapat disaksikan oleh mereka secara kasat mata. Jika Allah saja Kuasa menciptakan segala hal tersebut, maka Allah juga Kuasa membangkitkan manusia setelah mati.

Di dalam surat An-Naba’ ayat 17-20, Allah jelaskan juga tentang apa yang bakal terjadi setelah dibangkitkan manusia, yaitu hari perhitungan. Penjelasan ini memang terlihat seperti dikhususkan kepada masyarakat kafir dan musyrik Quraisy, namun hakikatnya diperuntukkan untuk manusia yang hadir setelah al-Qur’an diturunkan-Nya. Dalam bahasa ahli tafsir, Al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khushusis sabab” (pandanglah ungkapan tersebut dengan keumuman lafal bukan khususan sebab).

Karena itu, bayangkanlah bahwa surat An-Naba’ ini diturunkan langsung kepada kita. Jadikan ayat-ayat ada di dalam surat An-Naba’ sebagai penguat keyakinan kepada Allah Swt. dan segala hal yang diciptakan-Nya. Sehingga ketika membaca surat An-Naba’ terbayang akan kekuasaan dan apa yang diciptakan Allah nantinya setelah manusia dibangkitkan dari matinya.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, Dan dibukalah langit, Maka terdapatlah beberapa pintu. Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia.”

Di dalam tafsir al-Qurthuby dimaktubkan riwayat dari hadis Mu’adz bin Jabal, Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Swt.” hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala.”? Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Mu’adz bin Jabal, sungguh kamu telah menanyakan suatu perkara besar.” Kemudian kedua mata Rasulullah menetaskan air mata. Lalu beliau bersabda, “Akan digiring sepuluh golongan dari umatku, golong per golongan. Allah telah membedakan mereka dari kelompok kaum muslimin dan telah mengganti rupa mereka. Di antara mereka ada yang berbentuk monyet, sebagian mereka ada yang berbentuk babi, sebagian mereka ada yang berjalan terbalik, yakni tangan di bawah dan kaki di atas dan wajah mereka diseret, sebagian mereka ada yang buta dan berjalan tak karuan, dan sebagian mereka ada yang pekak, bisu dan tak mengerti apa-apa, sebagian mereka ada yang menjulurkan lidah mereka sampai ke dada dan ludah nanah keluar dari mulut mereka. Semua makhluk merasa jijik terhadap golongan ini. Sebagian mereka ada yang terpotong tangan dan kaki mereka. Sebagian mereka ada yang disalib di batang-batang kayu yang terbakar api. Sebagian mereka ada yang sangat bau busuk, lebih busuk dari bau bangkai. Sebagian mereka ada yang mengenakan baju panjang dari yang lengket di badan mereka.

Orang-orang yang memiliki rupa monyet adalah orang-orang yang suka mengadu domba. Orang-orang yang memiliki rupa babi adalah orang-orang yang suka makan yang haram. Orang-orang yang berjalan terbalik dan wajahnya terseret adalah orang-orang yang suka memakan riba. Orang-orang buat adalah orang-orang yang berlaku zhalim dalam perkara hukum. Orang-orang yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang bangga dengan amal mereka. Orang-orang yang menjulurkan lidah adalah para ulama dan pendongeng yang perkataan mereka tidak sesuai dengan perbuatannya. Orang-orang yang tangan dan kakinya terpotong adalah orang-orang yang menyakiti tetangga.Orang-orang yang disalib di batang kayu yang terbakar api adalah orang-orang yang mengajak orang lain untuk mendapatkan kekuasaan. Orang-orang yang baunya lebih busuk dari bau bangkai adalah orang-orang yang melampiaskan syahwat dan menikmati semua kelezatan, namun mereka menahan hak Allah dari harta mereka. Dan orang-orang yang berlumuran ter adalah orang-orang yang sombong, angkuh dan congkak.”

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan