Minggu, 08 Juni 2014

Tafsir Surat An-Naba’ 21-30: Neraka Jahanam dan Penghuninya - 1

Bila dibaca surat An-Naba’ ayat 21-30, maka akan ditemukan hubungan dengan ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan tentang tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari matinya dan mengumpulkannya di padang mahsyar, baik muslim maupun musyrik. Semuanya dikumpulkan Allah untuk dilakukan penghisaban.

Di dalam surat An-Naba’ ayat 21-30 ini Allah mewartakan tempat kembali orang yang mendustakan al-Qur’an atau orang yang mengingkari adanya hari dibangkitkan manusia setelah mati. Mereka adalah golongan yang melampaui batas dan mengingkari ayat-ayat Allah.

Adalah Allah Swt. menceritakan kondisi neraka Jahanam dengan menggunakan gaya bahasa penguatan, yaitu Inna. Sehingga, ayat ini menunjukkan keseriusan dan kebenaran yang kuat tentang proses yang terjadi di dalam neraka Jahanam.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan Sesungguh- sungguhnya, dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab, karena itu rasakanlah. dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

Pada ayat 21, Allah Swt. menyebutkan bahwa Neraka Jahanam memiliki tempat pengintai. Di dalam kitab Tafsir al-Qurthubu disebutkan pendapat Imam Al-Hasan. Menurutnya, bahwa sesungguhnya di atas neraka ada pengawasan. Tidak ada seorangpun dapat masuk surga hingga ia bisa melewati pengawasan tersebut. Siapa yang datang dengan membawa catatan amal baik, maka ia dapat melewati pengawasan tersebut, dan siapa yang datang tanpa membawa catatan amal baik, maka akan ditahan.

Sehingga dapat dipahami bahwa tak ada jalan menuju surga, kecuali melewati neraka Jahanam. Maka dari itu, Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an menuliskan bahwa sesungguhnya Neraka Jahanam itu sudah diciptakan, sudah ada dan padanya ada tempat pengintai bagi orang-orang yang melampaui batas. Ia menunggu dan menantikan mereka yang akan sampai juga ke sana, karena ia memang disediakan dan disiapkan untuk menyambut mereka. Seolah-olah mereka itu melakukan perjalanan di bumi, kemudian mereka kembali ke tempat asalnya. Mereka datang ke tempat kembalinya tersebut untuk menetap di sana dengan durasi yang amat panjang, yaitu berabad-abad.

Kata “lith-thaghin” di dalam ayat 22 yang memiliki arti melampaui batas, ditafsirkan oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dengan tidak menyembah Allah dan melanggar batas yang sudah ditetapkan. Batas yang sudah ditetapkan Allah terhadap manusia termaktub di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku.”

Sehingga dapat dipahami bahwa manusia dikatakan melampaui batas, bila ia tidak menyembah Allah dan melakukan kezaliman. Orang yang tidak menyembah Allah, berarti ia ingkar kepada Allah. Orang yang melakukan kezaliman berarti ia tidak taat kepada Allah. Tidak taat kepada Allah, artinya tidak menyembah Allah dengan sebenar-benarnya. Maka, Neraka Jahanam menjadi tempat berpulang bagi mereka dan mereka tinggal di sana berabad-abad lamanya.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan