Senin, 09 Juni 2014

Tafsir Surat An-Naba’ 31-36: Gambaran Surga dan Fasilitasnya - 1

Surat An-Naba’ ayat 31-36 ini memiliki hubungan erat dengan ayat-ayat sebelumnya. Di dalam ayat 21-30, Allah Swt. memberitakan tempat kembali orang-orang yang mendustakan al-Qur’an dan mengingkari adanya hari berbangkit, maka di dalam ayat 31-36 ini Allah memaparkan tempat kembali orang-orang yang mengimani ayat-ayat al-Qur’an benar dan datangnya dari-Nya, plus juga mengakui adanya hari berbangkit.

Jika di dalam ayat 21-30 dari surat An-Naba’, Allah Swt memberikan gambaran tentang neraka Jahanam dan apa yang disediakan-Nya bagi para penghuni neraka tersebut. Di dalam ayat 31-36 ini, Allah memberitakan apa yang bakal diperoleh orang-orang yang masuk ke dalam surga Allah Swt.

Meski, gambaran tentang surga yang diceritakan Allah ini sejatinya belum seberapa dengan apa yang nantinya didapat saat berada di surga. Gambaran fasilitas surga yang dipaparkan di dalam ayat 31-36 ini hanya gambaran yang sesuai dengan kemampuan akal manusia. Sesungguhnya, kenikmatan surga itu tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia dan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata manusia. (QS. Al-Ahzab [33]: 17)

Selalu Berpasangan

Ada sesuatu yang menarik yang dilihat dari surat An-Naba’ ayat 31-36 ini. Di sini, Allah mengajarkan untuk berperilaku adil. Dia selalu menjelaskan apa pun dengan format berpasangan. Jika sebelumnya Allah menceritakan tentang neraka, maka di dalam ayat ini Dia menjelaskan tentang surga. Di dalam ayat-ayat lain di dalam al-Qur’an pun demikian.

Jika Allah menyebutkan siksa, maka Dia juga akan mengiringinya dengan cerita tentang pahala. Ketika berbicara tentang orang-orang baik, Dia menyertainya dengan perbincangan ihwal para pelaku keburukan. Kala berkisah tentang kebenaran, maka Dia mengiringinya dengan paparan mengenai kebathilan.

Karena itu, Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin di dalam tafsir Juz ‘Amma menuliskan, Allah selalu menampilkan ayat-ayat yang berpasangan agar manusia yang berjalan menuju Rabb-nya selalu berada di antara ketakutan harapan. Dengan bahasa sederhana, agar manusia beribadah dalam kondisi harap-harap cemas.

Artinya, jika seseorang terlalu yakin dengan harapannya tentu dia akan menjadi orang yang merasa aman dari makar Allah. Namun, bila ia berada di dalam kondisi ketakutan maka ia akan terjatuh di dalam keputusasaan dari rahmat Allah. Kedua sikap tersebut adalah sama-sama dosa besar. Artinya, keduanya sama buruknya.

Maka cukup layak diingat pesan Imam Ahmad Bin Hanbal, “Seharusnya seorang manusia dalam menjalani peribadahannya kepada Allah berada di antara ketakutan dan harapan. Jika salah satu dari keduanya itu mendominasi diri seseorang maka celakalah dia. Oleh karena itu, makanya di dalam al-Qur’an ayat-ayatnya selalu berpasangan. Tujuannya, agar jiwa manusia tidak mengalami kebosanan karena hanya mengingat satu keadaan saja dan terus menerus berkonsentrasi padanya, tanpa melihat sisi yang berkebalikan dengan itu.”

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan