Senin, 09 Juni 2014

Tafsir Surat An-Naba’ 37-38: Malaikat Pun Takut di Hari Penghisaban - 1

Setelah Allah menjelaskan apa balasan yang diterima oleh orang-orang yang melampaui batas dengan mengingkari adanya hari kebangkitan setelah mati dan juga menjelaskan tentang balasan orang yang bertakwa, Dia juga menjelaskan tentang bagaimana kondisi malaikat di saat hari berbangkit tersebut.

Sungguh, membaca dan memahami ayat ini dibutuhkan keimanan yang kuat. Keimanan yang benar-benar mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang tidak memiliki sekutu. Dia adalah Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan. Pasalnya, di saat hari berbangkitlah manusia bakal menyaksikan betapa Allah memang Maha Pencipta dan Maha Penguasa.

Di dalam surat An-Naba’ ayat 37-38 ini, “Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. pada hari, ketika ruh dan Para Malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” , bisa dipahami bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa.

Firman Allah, “Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia” ditafsirkan oleh para ulama bahwa manusia tidak mampu bertutur kepada Allah. Sekiranya pun dapat bertutur, hanyalah orang yang memang diizinkan-Nya. Pastinya, yang dituturkannya adalah kebenaran.

Muhammad Abduh menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, bahwa manusia tidak bisa memberi syafaat kepada seorang pun atau memberi sesuatu kepada yang lain tanpa seizin Allah Swt. Dia tidak akan memberi izin kecuali kepada orang-orang yang benar-benar akan melaksanakan perintah-Nya. Jadi hak bicara pada hari itu menjadi tanda bahwa orang tersebut adalah orang yang mulia di sisi Allah Swt.

8 Pendapat mengenai Makna “Ar-ruuh”.

Di dalam tafsir al-Qurthuby dimaktubkan ada delapan pendapat tentang maksud kata “Ar-Ruh” yang terdapat di ayat 38 dari surat An-Naba’ ini.

  1. Maksud dari kata tersebut adalah salah satu malaikat. Hal ini berpegang pada perkataan Ibnu Abbas ra. “Tidak ada makhluk yang Allah ciptakan setelah arasy yang lebih besar dari malaikat ini. Apabila tiba hari kiamat, ia berdiri sendiri dalam satu barisan dan para malaikat seluruhnya berdiri di dalam barisan yang lain. Besarnya bentuk malaikat ini sama seperti barisan para malaikat.
  2. Maksud dari kata tersebut adalah Jibril as. Ini adalah pendapat Asy-Sya’bi, Adh-Dhahhak dan Sa’id bin Jubair. Hal ini berdasarkan perkataan Wahab, “Sesungguhnya Jibril as berdiri di hadapan Allah Swt. sambil gemetar. Dari setiap getaran persendiannya, Allah menciptakan seribu malaikat. Malaikat-malaikat itu berbaris di hadapan Allah sambil menundukkan kepala. Lalu, jika Allah mengizinkan mereka berbicara, mereka pun berucap: tidak ada tuhan selain Engkau. Inilah yang dimaksud dengan mengucapkan “kata yang benar”

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan