Senin, 09 Juni 2014

TEMAN SETIA HIDUP DAN MATI

Dalam menjalani kehidupan di dunia, peran seorang teman bagi manusia amatlah penting, Tak jarang kedudukan teman bagi seseorang telah menggantikan posisi keluarga atau bahkan dirinya sendiri.

Sejatinya, teman haruslah seseorang yang mampu memberi hal positif, dukungan serta menjadi sumber inspirasi kebaikan. Bukan teman yang malah menjerumuskan dan memalingkan kita dari takwa. Meski demikian, seakrab dan sebaik apapun teman yang dipunyai di dunia, jangan sampai melupakan sosok teman yang lebih setia dari segalanya.

Allah SWT berfirman dalam surat Lukman ayat 33 yang artinya “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu” (QS. Lukman:33) Ada sebuah kisah sufi yang diriwayatkan oleh sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa begitu seseorang meninggal dunia, ketika jenazahnya masih terbujur, diadakanlah ‘upacara perpisahan’ di alam ruh.

Pertama-tama ruh mayat dihadapkan pada seluruh kekayaannya yang dia miliki kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayat itu berkata kepada seluruh kekayaannya,

“Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu, sehingga aku lalai dan lupa untuk mengabdi kepada Allah, bahkan sampai aku tidak mau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bukan itu saja, sering kali kuhinakan diriku demi untuk mendapatkanmu. Sekarang apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini”.

Lalu harta kekayaan itu berkata “Ambillah dariku hanya sebatas untuk kain kafanmu”

Sesudah itu si mayat dihadapkan pada seluruh keluarganya (anak-anak, suami atau istrinya), lalu si mayat berkata,

“Dahulu aku mencintai kalian, menjaga dan merawat kalian sepenuh hatiku. Begitu susah payah aku mengurus diri kalian sampai aku lupa mengurus diriku sendiri, ketika kalian sakit aku yang paling gelisah, ketika kalian dizalimi darahku yang paling mendidih, sekarang apa yang akan kalian berikan padaku pada perjalanan menuju Allah ini?”

Serentak keluarganya berseru “Kami antarkan kamu sampai ke kuburan.”

Setelah itu si mayat akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau selama hidup ia banyak banyak beramal saleh, maka ia akan dijemput oleh makhluk berwajah ceria dengan memancarkan cahaya dan aroma semerbak, jika memandangnya akan menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Sebaliknya, bila semasa hidup sering membangkang pada perintah Allah dan RasulNya, maka si mayat akan dijemput oleh makhluk menakutkan, dengan bau teramat busuk.

Makhluk jelmaan itu lalu mengajak si mayat pergi. Bertanyalah si mayat

“Siapakah engkau ini sebenarnya? Aku tidak pernah mengenalmu”

Makhluk itu kemudian menjawab “Akulah jelmaan amal kamu sewaktu hidup di dunia dulu, dan aku akan selalu menemanimu dalam menempuh perjalanan panjang menuju Ilahi.”

Kisah di atas banyak mengandung pesan yang mengajarkan kita untuk mempersiapkan bekal setelah meninggalkan dunia. Tersirat pula mengenai seorang teman yang akan setia menemani tidak hanya di dunia, namun juga di alam kubur. Siapakah teman yang dimaksud?

Teman setia itu ternyata bukanlah harta benda, karena setelah manusia meninggalkan dunia, hanya sebatas kain kafan harta yang dapat dibawa untuk perjalanan selanjutnya.

Bukan pula keluarga, sahabat dan handai tolan yang selalu dibela dan dicintai ketika masih di dunia. Mereka bahkan tidak mau menemani di liang lahat, mereka hanya mengantar sebatas pusara. Bagaimana mungkin akan menjadi teman yang setia?

Dari Anas bin Malik r.a. , Rasulullah SAW bersabda “Tiga perkara mengiringi jenazah, dua dari padanya akan kembali hanya satu akan tinggal bersamanya. Yaitu kaum kerabatnya, hartanya dan amalannya. Kaum kerabat dan hartanya akan pulang. Hanya amalan yang tinggal bersamanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Nyatanya, teman sebenar-benarnya teman adalah amalan. Bagaimanapun perlakuan terhadapnya di dunia, ‘amal’ akan tetap setia menemani manusia di alam kubur menanti datangnya hari kiamat. Betapa amal adalah teman yang paling berharga, karena bermanfaat selagi masih di dunia; memberi pahala dan derajat mulia, Maupun di masa sesudahnya yaitu menjadi teman penantian yang setia di alam kubur. Tinggal kembali pada manusia itu sendiri memilih teman seperti apa yang akan menemaninya kelak.

Ir. Permadi Alibasyah dalam bukunya ‘Bahan Renungan Kalbu’ menuliskan “Ternyata tidak semua yang kita upayakan selagi hidup di dunia akan kita tinggalkan. Ada juga yang akan menemani kita di alam kubur. Alangkah bahagianya bila “teman” ini menyenangkan, dan alangkah malangnya bila perjalanan jauh yang seolah-olah tak berujung ini, ditemani “teman” yang selalu membuat kita sengsara.”

Hal ini dapat kita siratkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat darinya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat darinya maka selanjutnya adalah lebih berat.” (HR. Tiirmidzi)

Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah yang artinya “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anak kamu itu hanyalah sebagai cobaan” (QS. Al Anfaal:28) serta “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke alam kubur.” (QS. At Takaatsur:1-2)

Demikian jelaslah bahwa harta dan keluarga yang dimiliki semasa hidup di dunia tidak mampu menemani selamanya, meski jelas manfaat yang kita rasakan dari keduanya. Lantas mengapa harus mencari teman yang lebih buruk dari itu serta melalaikan amal yang jelas akan menjadi teman yang setia di kehidupan setelah mati?

Dan ingatlah pada firman Allah SWT dalam sebuah Hadits Qudsi “Wahai manusia! AKU heran pada orang yang yakin akan kematian tapi ia hidup bersuka ria. AKU heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai” (Hadits Qudsi).

Oleh : Tika Dwi
Sumber : Alibasyah, Permadi Ir. 2007. Bahan Renungan Kalbu. Bandung: Cahaya Makrifat Bandung

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan