Sabtu, 07 Juni 2014

Wakaf

Sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT dan juga bentuk kasih sayang kepada sesama islam telah menganjurkan pemberian harta kepada sesama umat yang membutuhkan. Oleh karena itu, amalan seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, dan lainnya telah ditetapkan sebagai bentuk solidaritas kepada sesama tersebut. Layaknya zakat yang biasa digunakan untuk kebutuhan konsumtif para mustahik. Saat ini telah dikembangkan konsep baru dalam pengelolaan zakat maupun infak, sedekah ini dengan bentuk yang produktif.

Dana zakat, infak, dan sedekah yang ada dikumpulkan. Kemudian dana tersebut dipakai untuk mendirikan rumah sakit, sekolah ataupun lainnya yang dapat dipakai oleh masyarakat luas yang membutuhkan. Selain itu, dana tersebut bisa dijadikan modal awal usaha oleh para mustahik untuk membangun usaha baru. Harapannya, usaha tersebut dapat berkembang dan berhasil menjadikan muzakki-muzakki baru melalui dana zakat, infak, sedekah produktif ini.

Namun, jauh sebelum dikembangkan konsep ini islam telah menjadikan instrumen lainnya yang memang khusus dipakai untuk kebutuhan produkif. Yaitu wakaf. Wakaf dari kata asalnya yang memiliki arti menahan. Maksudnya adalah pokok barang wakaf tersebut tetap ada sedemikian rupa, namun manfaat dari harta wakaf tersebut dapat diserahkan kepada para mustahik yang delapan ashnaf tersebut. Adapun delapan ashnaf tersebut adalah: fakir, miskin, gharimin, amil, muallaf, fii sabilillah, riqob (hamba sahaya), dan ibnu sabil.

“Jika Anak Adam meninggal maka terputus ‘amalnya kecuali dari 3 (perkara): Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak Sholeh yang berdo’a baginya”. (H.R Muslim)

Hadits ini menerangkan amal yang tidak akan terputus bahkan sampai seseorang itu wafat ada tiga, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh. Wakaf sendiri termasuk kepada sedekah jariyah. Karena harta wakaf yang diserahkan pemilik kepada umat muslim dapat dipakai terus menerus. Sehingga pahala yang diperoleh orang yang memberikan wakaf tersebut dapat terus mengalir walaupun ia telah meninggal.

Hadits Nabi yang lebih tegas tentang wakaf, yaitu perintah Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar :

“Dari Ibnu Umar ra. Berkata: bahwa sahabat Umar ra. Memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap Rasulullah untuk memohon petunjuk. Umar berkata : “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, apa yang engkau perintahkan kepadaku ?” Rasulullah menjawab: “Bila kamu suka,kamu tahan (pokoknya)”. Kemudian Umar shadaqah, tidak dijual, tidak diwariskan dan tidak juga dihibahkan. Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud menumpuk harta” (HR. Muslim). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan :

Dari Ibnu Umar, ia berkata : “Umar mengatakan kepada Nabi saw. Saya mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya. Nabi saw mengatakan kepada Umar : Tahanlah (jangan jual, hibahkan dan wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Bentuk harta wakaf di Indonesia pada umumnya adalah tanah. Padahal bentuk lainnya seperti uang, bangunan, buku, dan lain sebagainya yang dibutuhkan umat banyak tidaklah dilarang. Yang menjadi pokok perhatian utama dari wakaf ini adalah pemakaian manfaat dari harta yang diwakafkan dapat dirasakan oleh umat. Tentu terdapat batasan dari harta wakaf itu sendiri. Seperti harus dimiliki secara penuh, tidak ada kepemilikan orang lain, dll. Selain itu, perlu dibuatnya akta sebagai bukti perpindahan kepemilikan, agar ahli waris yang memberi harta wakaf tidak dapat menariknya di suatu saat nanti.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan