Senin, 09 Juni 2014

WASPADAI JEBAKAN TABARRUJ

Beberapa hari yang lalu, melalui televisi saya mendengar sebuah statement yang menarik dari seorang penyanyi wanita papan atas Indonesia. Isi statement tersebut kurang lebih menyatakan bahwa sesungguhnya kaum wanita berpakaian (berhias) ditujukan untuk sesama wanita.

Sebagai seorang wanita, saya sangat setuju dengan statement tersebut. Karena memang secara sunnah alamiah kaum wanita menyukai keindahan, kecantikan lalu mengimplementasikan hal-hal tersebut pada dirinya dan sekitarnya. Atas dasar itulah kegiatan menghias diri bagi wanita tidak serta-merta ditujukan untuk kaum lelaki. Pada kenyataannya hanya wanita tertentu, belia dan belum dewasa saja yang mati-matian mempercantik diri untuk tujuan lawan jenis.

Sebagai wanita muslim yang berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, penjabaran statement tersebut tidak hanya sampai di situ. Di dalam Kitabullah telah termaktub secara jelas dan lengkap mengenai syariat yang harus di patuhi dan dijalankan oleh setiap muslim. Serta Hadits Nabi SAW yang turut membimbing dan mengarahkan setiap muslim agar terhindar dari keraguan dan perusakan dalam menjalankan syariat tersebut. Termasuk pula bagaimana sebaiknya para wanita menghias dirinya dan hukum-hukum yang menyertainya.

Tertutup Adalah Mutlak

Sebagaimana diketahui bahwa setiap manusia menyukai keindahan dan memperindah diri baik lelaki maupun wanita. Namun Islam sangat melarang segala sesuatu yang berlebih-lebihan, Islam tidak melarang seseorang untuk berhias asal mengikuti aturan yang berlaku serta tidak sampai menimbulkan kelalaian sebab bermegah-megahan (QS. At Takaatsur:1-8).

Ada beberapa aturan berbeda bagi lelaki dan wanita, contohnya seperti larangan menggunakan kain sutra dan emas bagi kaum lelaki.(HR. Bukhari Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud). Sedangkan khusus bagi kaum wanita, Islam telah pula menetapkan aturan yang harus dipenuhi sebelum wanita tersebut berhias, yaitu menutup aurat (QS. Al Ahzab ayat 59)

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Hai Asma’. Sesungguhnya seorang perempuan bila telah mencapai usia haid (baligh) maka tidak pantas anggota badannya kelihatan kecuali ini dan ini, dan Nabi memberi isyarat pada wajahnya dan kedua telapak tangannya.”(HR. Abu Daud). Serta tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada mahramnya. (QS. An Nur ayat 31).

Berkaitan dengan pakaian, sebagian besar ulama bersepakat bahwa dalam Islam tidak ada aturan mengenai model, warna ataupun bahan yang wajib digunakan ataupun yang dilarang untuk digunakan asalkan tidak membentuk tubuh wanita tersebut, menyerupai lawan jenis dan mampu menutup aurat dengan sempurna.

Firman Allah SWT yang artinya:“Hai, anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”(QS. Al A’raf:26)

Anjuran berhias

Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia menceritakan “Ada seorang wanita yang menyodorkan sebuah kitab dengan tangannya kepada Rasulullah, lalu beliau menarik tangan beliau, lalu wanita itu mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku menyodorkan tanganku kepadamu dengan sebuah kitab tetapi engkau tidak mengambilnya”

Beliau pun berkata “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apakah itu tangan orang perempuan atau orang laki-laki.” ‘Ia adalah tangan wanita’ papar wanita itu. Maka beliau berkata “Seandainya aku seorang wanita, niscaya aku akan mengubah kukumu dengan daun pacar”(HR. Abu Dawwud dan An Nasa’i).

Diriwayatkan pula pada hari pernikahan Aisyah dengan Rasulullah dari Asma’ binti Yazid yang berkata “Aku menghias Aisyah untuk Rasulullah SAW, lalu aku datang padanya. Kemudian aku memanggil Rasul supaya datang menghampiri Aisyah…”(HR. Ahmad)

Dalam kisah di atas sesungguhnya Rasulullah SAW membolehkan berhias bagi pengantin, serta anjuran Rasulullah kepada seorang wanita untuk menghiasi tangannya dengan pacar atau inai. Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada larangan bagi wanita untuk mempercantik diri di hari pernikahannya maupun pada kesehariannya.

Tetapi tetaplah harus diingat, bahwa Allah sangat membenci orang yang melampaui batas. Mempercantik penampilan tidak harus menggunakan bahan tambahan seperti inai, make up dan lainnya. Kecantikan yang utama ditimbulkan dengan cara menjaga dan merawat kebersihan diri. Selain itu, berhias dengan tujuan untuk dihargai atau untuk dipandang menyenangkan bagi sesama wanita juga tidak dilarang, namun jika berlebihan bukan hanya akan menarik perhatian sesama wanita namun juga kaum pria. Hal inilah yang seringkali ‘menjebak’ muslimah masa kini pada perbuatan yang tergolong tabarruj dan tidak dibenarkan dalam Islam.

Tabarruj

Sebaik-baik berhias bagi seorang muslimah adalah ditujukan untuk mensyukuri nikmat Allah dan menyenangkan hati suaminya. Namun bagi wanita yang belum bersuami boleh pula berhias sebagai tanda syukur atas nikmat Allah SWT.

Sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah senang melihat tanda nikmat yang diberikan kepada hamba-hambaNya.”(HR.. Timidzi dan Hakim) Selain dengan tujuan hadits di atas, berhias bagi seorang muslimah yang belum menikah memang sangat riskan. Karena ia berhias untuk dirinya sendiri atau untuk menyenangkan hati keluarga maupun sesama wanita lainnya. Sehingga harus selalu berhati-hati serta tidak berlebihan, agar tidak menimbulkan bahaya tabarruj dan fitnah yang akan merugikan dirinya.

Tabarruj sendiri berarti berhias dengan memperlihatkan kecantikan dan menampakkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah secara berlebihan. Beberapa ulama menambahkan”Yaitu wanita yang jalannya dibuat-buat dan genit”. Imam Al Bukhari mengatakan “Tabarruj adalah tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain”

Islam dengan tegas melarang perbuatan ini seperti juga larangan terhadap perbuatan yang biasa menyertainya pada masa kini seperti mencukur dan menyambung rambut, mengubah (mengurangi/menambah) sedikit atau banyak anggota tubuh tanpa alasan mendesak, menjulurkan pakaian, serta memakai wewangian yang apabila ia berjalan tercium oleh orang lain (Al Hadits).

Penutup

Berhias merupakan suatu kegiatan yang identik dengan wanita, tidak heran jika sebagian besar wanita atau mungkin seluruhnya sangat menggemari kegiatan ini. Islam tidak melarang kaum wanita untuk berhias. Namun dibalik semua pembolehan itu, wanita wajib menyadari batas yang harus di taati agar tidak terjebak jatuh dalam perangkap syaitan dan Iblis laknatullah. Sebagaimana kita tahu tak hentinya menggoda manusia untuk jauh dari Sang Maha Pencipta Allah ‘Azza Wajalla dengan berbagai macam cara dan tipu dayanya. Semoga seluruh muslimah Indonesia terbebas dari jebakan tabarruj serta fitnah yang menyertainya.

Oleh : Tika Dwi

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan