Sabtu, 07 Juni 2014

ZAKAT

Zakat merupakan sebuah kewajiban bagi semua umat muslim yang memiliki harta yang telah melebihi dari kebutuhan pokoknya. Zakat sendiri dibagi menjadi dua, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah merupakan zakat wajib yang dikeluarkan setiap bulan Ramadhan sebelum shalat Idul Fitri. Pembayaran zakat fitrah tersebut bisa memakai uang tunai ataupun barang kebutuhan pokok yang berlaku di tempat tersebut. Indonesia umumnya memakai beras untuk zakat fitrah yang dibayarkan dengan barang, sedangkan di negara lainnya umumnya berupa gandum atau kurma. Kebolehan membayar zakat dengan uang didasarkan kepada maslahat. Asumsinya, dengan uang tersebut para penerima zakat bisa memakainya untuk usaha yang lebih baik dibandingkan hanya sekedar untuk konsumsi sesaat.

Zakat mal merupakan zakat harta benda yang dimiliki dan telah mencapai nishab. Adapun nishab pertanian sebanyak 653 kg dan untuk emas sebesar 80 gr emas atau setara dengan ±Rp 42.000.000. Untuk zakat pertanian, pembayaran zakat dikeluarkan setiap kali panen dengan ketentuan telah melewati nishab sebanyak 653 kg. Selain itu kadar pembayaran zakat pertanian juga dilihat dari faktor produksi petani. Jika petani mengeluarkan biaya untuk mengairi sawahnya maka kadarnya 5%. Jika petani tersebut hanya memakai air hujan atau tidak memakai biaya untuk usaha produksinya maka kadar zakatnya 10%. Sedangkan emas kadar zakatnya 2.5%, dan ini tidak berubah dari masa ke masa.

Pada zakat lainnya seperti zakat profesi, zakat peternakan, zakat perdagangan, dll. Ketentuannya selain melewati nishab juga harus mencapai 1 tahun (haul) kepemilikan harta tersebut. Adapun syarat harta yang wajib zakat, adalah: Harus melewati haul, melewati nishab, milik sepenuhnya, muslim, baligh, dan sumber zakatnya tertentu, yaitu: perdagangan, pertanian, emas, perak, dll.

Apabila seseorang memiliki harta sebanyak Rp. 100 juta. Namun, uang tersebut sedang dipinjamkan ke pihak lain. Maka ia belum berhak mengeluarkan zakat dari hartanya yang Rp. 100 juta tersebut. Hal ini dikarenakan ia belum menerima harta tersebut. Zakatnya dikeluarkan setelah ia menerima kembali harta tadi.

Pada masa Rasullullah SAW zakat hanya terdapat dari pertanian, peternakan, perdagangan, barang temuan, dll. Sedangkan zakat profesi dan perusahaan tidak ada. Jika ditelaah bersama pendapatan dari profesi dan perusahaan sangatlah besar. Apabila dana zakatnya dikumpulkan maka dapat membantu umat muslim yang kekurangan dalam jumlah yang sangat besar. Oleh karena itu dibuatlah peraturan akan zakat perusahaan dan profesi sesuai dengan Ijma Ulama.

Zakat profesi juga diqiaskan dengan zakat emas dan pertanian. Yaitu dengan nishab 85gr emas dan kadarnya 2.5%. Dengan analogi dikeluarkan setiap menerima gaji dengan menghitung nishabnya selama setahun (haul). Namun agar lebih nyaman dan tidak memberatkan pengeluarannya, maka lebih baik dikeluarkan setiap bulan ketika menerima gaji. Keuntungan bagi yang mengeluarkan zakat selain hartanya bersih dari kewajiban akan hak orang lain, juga diberi ketenangan hati beserta jaminan hartanya dari Allah SWT.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan