Kamis, 30 Oktober 2014

Bagaimana Hukum Euthanasia?

Sebelum mengulas lebih dalam mengenai Euthanasia, akan dipaparkan terlebih dahulu pengertian dari Euthanasia. Euthanasia dapat diartikan suatu tindakan menghilangkan nyawa manusia dengan sengaja tanpa merasakan sakit, di mana didasari dengan rasa kasih sayang. Adapun tujuannya untuk meringankan sakit yang dialami si penderita. Dalam bahasa arab Euthanasia disebut “qatl rahmah” yakni membunuh karena kasih sayang.

Euthanasia ini dapat dibagi menjadi tiga macam di antaranya euthanasia agresif (al – fa’al), euthanasia pasif (al – munfa’il), lalu euthanasia non agresif. Yang pertama, Eutanasia Agresif (al – fa’al) yakni suatu perbuatan yang dilakukan secara sengaja oleh ahli medis untuk menyudahi hidup si pasien atau si penderita, dengan menyuntikan zat – zat mematikan ke tubuh pasien, memberinya obat – obatan secara overdosis, atau obat – obatan yang mematikan. Di mana eutanasia pada bentuk ini, dipecah menjadi dua :

  1. Hukumnya haram apabila tanpa persetujuan pasien dan sangat bertentangan dengan kemauan pasien. Bahkan tindakan tersebut teramat bertentangan dengan firman Allah SWT berikut :

    “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (QS. Al Israa : 33).

    Dari paparan ayat tersebut, bahwa nyawa manusia adalah suci dan tak boleh melenyapkan kecuali dengan alasan yang sesuai dalam syariat Islam, layaknya orang yang murtad dan dalam hukum qishas, lalu hukuman rajam bagi muhsan (sudah menikah) yang berzina. Sebaliknya membunuh pasien yang dilandasi kasih sayang, tidak masuk dalam kategori tersebut, maka dapat dikatakan perbuatan yang haram. Perlu diingat juga, bahwa yang menghidupkan dan mematikan hanya Allah SWT seperti dalam firmanNya :

    “Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran : 156).

  2. Dengan persetujuan atau keinginan pasien sendiri, yakni seorang pasien yang memiliki sakit keras, sedangkan si pasien sudah tak sanggup lagi menahannya dan meminta dokter untuk segera menyudahi hidupnya. Perbuatan ini tergolong haram karena termasuk tindakan bunuh diri. Dan juga bertentangan dengan firmanNya :

    “Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu, dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An Nisa’ : 29).

Kemudian yang kedua Euthanasia Pasif (al – munfa’il) adalah tidak dilakukan langkah – langkah aktif secara medis yang diharapkan dapat memperpanjang hidup pasien. Maka hal ini seharusnya dilihat dulu. Tindakan ini diambil oleh ahli medis seusai berbagai upaya yang dilakukan terhadap pasien. Namun tak ada tanda – tanda perkembangan dari pasien serta harapan yang pasti, maka ahli medis tak melakukan langkah – langkah selanjutnya, kecuali menyerahkan urusannya hanya kepada Sang Khalik. Berikut alasan atas tindakan ini :

  • Dokter sudah melakukan segala upaya, dan Allah tidak membebani seseorang melewati batas kemampuannya.
  • Tak ada niatan untuk membunuh si pasien, kecuali menyerahkan urusan tersebut hanya kepada Allah SWT.

Dan yang terakhir Euthanasia Non Agresif yaitu si pasien menolak secara terang – terangan mengenai perawatan medis. Hal ini harus dilihat dulu berikut :

  • Apabila seorang pasien merasa putus asa hingga ia menolak segala bentuk perawatan medis, maka digolongkan perbuatan haram karena termasuk perbuatan bunuh diri.
  • Namun jika pasien menolak perawatan, dikarenakan ia meyakini jika kesembuhan bisa didapat karena Allah dan bertawakal kepada Allah semata, dan tak ada sama sekali niat untuk mengakhiri hidup, perbuatan ini dibolehkan dalam Islam. Perlu disampaikan juga, bahwa hukum berobat atas penyakit sendiri masih diperdebatkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan mubah hukumnya, mustahab, bahkan sebagian kecil mengatakan wajib.

Oleh : Ardan Esand
Sumber : Majalah Islam Ar – Risalah Edisi 89 Vol. VIII No.5

Rabu, 15 Oktober 2014

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan dari bulan haram dalam islam. Pada bulan ini terdapat beberapa hari tasyrik dan hari-hari yang memiliki keutamaan besar. Amal-amal sholeh yang dilaksanakan di bulan ini sangat dicintai oleh Allah Swt. Banyak amal sholeh yang bisa kita laksanakan di bulan ini. Namun, amal sholeh yang secara khusus dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap mukmin/mukminah di bulan ini adalah:

Puasa Sunnah

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Amalan pertama yang dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, yakni puasa Arafah. Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan ketika jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Puasa ini disunnahkan bagi mereka yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji. Sedangkan bagi mereka yang sedang haji (wukuf di Arafah) dianjurkan untuk berbuka.

Memperbanyak Amal Shalih

“Tidak ada hari di mana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Bukhari, Ahmad, dan At-Turmudzi).

Amal shalih di sini sifatnya sangat umum. Yaitu semua kebaikan yang memang diniatkan semata untuk mendapatkan ridho dari Allah swt semata. Seperti sedekah, tilawah Al quran, menuntut ilmu, berbagi ilmu, berwajah cerah, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sholat Sunnah Iedul Adha

“Laksanakanlah salat untuk Rab-mu dan sembelihlah kurban.” (QS. Al-Kautsar: 2).

Ummat islam memiliki dua hari raya, yakni Iedul Fitri dan Iedul Adha. Iedul Adha dikenal juga dengan sebutan hari raya qurban. Karena pada hari tersebut, ummat islam diperintahkan untuk menyembelih hewan Qurban. Pada pagi hari raya, ummat islam diperintahkan untuk melantunkan takbir dan menunaikan sholat sunnah Iedul Adha secara berjamaah. Sebagaimana firman Allah dalam Al quran surat Al Kautsar di atas.

Menyembelih Hewan Qurban

“Siapa yang memiliki kelapangan namun dia tidak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dihasankan Al-Albani).

Iedul Adha disebut juga dengan hari raya qurban. Setelah sholat ied, selama hari tasyrik dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban. Khususnya bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki. Saking utamanya ibadah qurban ini, sampai-sampai Rasulullah Saw dalam hadist di atas mengancam mereka yang enggan untuk berkurban agar tidak mendekati masjidnya kaum muslimin. Artinya, orang yang enggan melaksanakan ibadah qurban bukanlah bagian dari kaum muslimin.

Haji dan Umroh

….. Dan sempurnakan ibadah haji dan umroh karena Allah…..(QS al-Baqoroh 2:196)
…. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang-  orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
(QS al-Imran 3:97)

Iedul Adha disebut juga dengan hari raya haji. Karena hari tersebut merupakan puncak dari pelaksanaan prosesi ibadah haji di tanah suci. Bagi muslim yang sudah memiliki kemampuan, baik secara fisik maupun finansial diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci. Bulan Dzulhijjah menjadi momen tepat bagi ummat islam untuk melaksanakan haji dan umroh.

Demikianlah amalan utama di bulan Dzulhijjah yang perlu kita ketahui. Semoga kita senantiasa diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah Swt untuk melaksanakan amal-amal shalih di bulan ini. Aamiin.

Oleh: Neti Suriana

Senin, 13 Oktober 2014

Dunia di Tangan dan Akhirat di Hati

Suatu hari Umar bin Khattab berkunjung ke rumah Rasulullah Saw. Ia mendapati Rasulullah Saw sedang berbaring pada selembar tikar. Setelah masuk dan duduk di samping Rasulullah, Umar bin Khattab mengetahui bahwa tidak ada apa-apa yang menjadi alas tidur Rasulullah selain selembar tikar dan sehelai mantel. Umar bin Khattab bisa melihat dengan jelas bekas guratan tikar pada kulit tubuh Rasulullah.

Umar bin Khattab mengamati kondisi rumah Rasulullah. Sangat sederhana. Di pojok rumah Umar melihat satu takar gandum. Di dinding tergantung satu lembar kulit yang sudah di samak. Umar menitikkan air mata menyaksikan kesederhanaan manusia yang mulia ini. “Mengapa Engkau menangis wahai Ibnul Khattab?” tanya Rasulullah.

“Ya Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis. Melihat gurat-gurat tikar di lambung Engkau dan rumah yang hanya diisi barang-barang itu. Padahal Kisra dan Kaisar hidup dalam gelimang harta kemewahan. Engkau adalah Nabi Allah, manusia pilihan. Seharusnya Engkau jauh lebih layak mendapatkan kemewahan yang lebih.”

“Wahai Ibnul Khattab, apakah Engkau tidak ridha, kita mendapatkan akhirat, sedang mereka hanya mendapatkan dunia?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Anas ra.)

======

Dunia beserta isi dan dinamikanya adalah perhiasan. Keindahannya tak jarang melenakan hati. Hingga hari demi hari hanya dihiasi oleh motivasi duniawi yang tiada bertepi. Banyak manusia yang kemudian lupa dengan tujuan hakiki hidup ini. Banyak jiwa yang lalai dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Rasul dan sahabat adalah generasi terbaik sepanjang masa. Kesederhanaan yang mereka contohkan bukan karena terpaksa. Tidak berharta bukan karena kurang usaha. Melainkan pilihan hidup yang bersahaja. Jika mereka cenderung pada dunia, mereka bisa saja memiliki kemewahan seperti raja dan kaisar yang dipuja-puja. Tapi mereka memilih untuk hidup mulia di jalan dakwah. Mereka meletakkan dunia di tangan dan memeluk akhirat kuat-kuat di hatinya.

Hidup zuhud dan bersahaja, itulah yang Rasul ajarkan pada umatnya. Kita adalah generasi islam yang selayaknya meneladani jalan hidup beliau. Tidak mudah memang hidup bersahaja di tengah gemerlap dunia menggoda. Apalagi bagi kita generasi yang hidup di era milenium ini. Di mana manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan duniawi yang tak bertepi.

Hidup zuhud dan bersahaja bukan berarti kita harus menarik diri dari dunia. Kita tetap butuh dunia untuk meraih kebahagiaan akhirat. Dunia adalah ladang yang harus ditanami dengan amal-amal hasanah untuk kebahagiaan di hari akhir. Hanya saja, kita tidak boleh terpenjara oleh ambisi dunia yang membutakan hati. Rebutlah kesuksesan dunia dengan ikhtiar yang diridhoi-Nya. Yakin dan terus menguatkan keyakinan bahwa rezeki dunia tidak akan jatuh ke tangan orang lain.

Hidup zuhud dan bersahaja bukan berarti menutup diri dari hiruk pikuk urusan dunia. Kita tetap membuka diri dengan kehidupan dunia. Namun kita harus memiliki tameng yang kuat agar tidak larut dalam hiruk pikuk dunia yang melenakan diri tersebut. Hidup zuhud dan bersahaja artinya mampu menutup diri dari pintu keburukan dalam meraih rezeki duniawi. Seperti menutup diri dari budaya korupsi, suap menyuap, tipu menipu dan budaya buruk lain demi kemewahan duniawi.

Membuka diri pada dunia, namun tetap waspada. Itulah esensi dari hidup zuhud dan bersahaja. Ketika kita menjemput dunia sebagai pedagang, maka jadilah pedagang yang jujur. Seperti pedagang kaki lima yang tidak mengurangi timbangan, dan pedagang buah yang tidak menyembunyikan cacat pada barang dagangannya. Ketika kita menjemput dunia sebagai pejabat, maka jadilah pejabat yang jujur dan profesional. Seperti Umar bin Abdul Aziz yang tidak berani menggunakan cahaya lentera negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Ketika kita memegang dunia sebagai pemimpin, jadilah pemimpin yang adil dan bersahaja. Seperti Umar bin Khattab yang rela hidup seadanya karena ingin berlaku adil terhadap rakyatnya.

Jadi, apapun profesi dan posisi kita di dunia, teladanilah hidup zuhud dan bersahaja ala Nabi dan sahabat. Karena, gaya hidup inilah yang akan mengantarkan kita pribadi yang dicintai oleh penduduk langit dan bumi. Gaya hidup inilah yang akan membawa kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

“Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

Sebagaimana Rasulullah Saw menggambarkan dalam hadistnya di atas. Ketika kita mampu zuhud terhadap dunia, maka Allah dan penduduk langit akan mencintai kita. Sementara ketika kita mampu zuhud pada apa yang di tangan manusia, niscaya manusia dan penduduk bumi akan mencintai kita.

Hidup zuhud adalah hidup yang bersahaja dan membahagiakan. Orang yang zuhud berusaha untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan bersabar dengan apa yang tidak dimiliki. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berguna bagi diri, demikian juga dengan hal-hal yang dapat merugikan orang lain.

Semoga kita bisa mencontoh gaya hidup zuhud dan bersahaja yang dicontohkan oleh Rasul dan sahabat. Hingga kita layak menjadi pribadi yang dicintai di dunia dan akhiran. Wallahu’alam.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Kandahlawy, S.M.Y. 1998. Sirah Shahabat, Keteladanan Orang-orang di Sekitar Nabi. Jakarta: Pustaka Al-kautsar.

Kamis, 09 Oktober 2014

Keutamaan Melaksanakan Amal Shalih di Hari Arafah

Memasuki bulan Dzulhijjah, ummat islam dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Terutama pada hari-hari yang memiliki keutamaan besar seperti hari Arafah. Pada hari tersebut kita dianjurkan untuk berpuasa, memperbanyak sedekah, berdoa dan berdzikir pada Allah swt.

Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Yakni hari di mana orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sedang wukuf di padang Arafah. Hari Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar. Diriwayatkan, bahwa dinamakan hari arafah karena pada malam tarwiyah (sehari sebelum hari arafah) Nabi Ibrahim pernah diperintahkan dalam mimpinya untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Mimpi tersebut sempat membuat Nabi Ibrahim bimbang dan bersedih. Apakah ini benar-benar perintah dari Allah, atau hanya sekedar mimpi biasa. Nabi Ibrahim mohon petunjuk pada Allah Swt. Pada malam berikutnya, Nabi Ibrahim kembali bermimpi hal yang sama dalam tidurnya. Sehingga Nabi Ibrahim pun ‘arafa (mengetahui dan meyakini), bahwa mimpi tersebut benar-benar perintah dari Allah swt. Karena itu disebutlah hari itu sebagai hari Arafah, yakni hari yang mulia dan memiliki keutamaan yang besar.

Puasa di hari Arafah sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji. Sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, menurut mayoritas ulama disunnahkan untuk berbuka. Mengingat, pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) tersebut, jamaah haji sedang melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Dikhawatirkan kalau dipaksakan terus berpuasa di hari tersebut, bisa mengganggu kekhusukan ibadah mereka di Arafah.

Dalam salah satu hadist diriwayatkan bahwa, Ibnu Umar pernah mengatakan; “Aku pernah menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah Saw dan beliau tidak berpuasa pada hari Arafah. Juga pernah bersama Abu Bakar, di mana ia juga tidak berpuasa. Demikian juga bersama Umar dan Ustman, yang mereka juga tidak berpuasa pada hari itu. Untuk itu, aku tidak berpuasa pada hari itu dan tidak juga memerintahkan atau melarangnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain Abu Hurairah mengatakan; “Rasulullah Saw melarang berpuasa pada hari Arafah di Arafah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I dan Ibnu Madjah).

Namun, puasa sunnah Arafah sangat utama dan dianjurkan untuk dilaksanakan bagi kaum muslimin yang sedang tidak melaksanakan rangkaian ibadah haji. Dalam salah satu hadis-nya Rasulullah Saw pernah mengatakan tentang keutamaan puasa Arafah, yakni dapat menghapus dua selama dua tahun, yakni satu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.

“Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Imam Muslim).

Hari Arafah adalah hari yang penuh dengan keutamaan dan kemuliaan. Hari di mana Nabi Ibrahim mendapatkan keyakinan dan keteguhan hati untuk melaksanakan perintah besar dari Tuhan-nya. Tidak hanya ibadah puasa yang disukai oleh Allah Swt pada hari tersebut. Semua amal shalih yang dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah akan mendapatkan keutamaan yang besar di sisi Allah.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Hamdi, A. tanpa tahun. Berkah dan Keajaiban Ibadah Puasa, Rahasia Islam untuk Menggapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Jakarta: Sandro Jaya.
Uwaidah, S. K. M. 1998. Fiqh Wanita. Jakarta: Penerbit Al Kautsar.

Rabu, 08 Oktober 2014

Cara Cerdas Lepas dari setiap Kesulitan menurut Islam - 2 (Habis)

Kehidupan di dunia selain menawarkan kebahagiaan, dia juga mampu memaksa kita untuk menelan pil pahit kehidupan. Setiap ujian yang Dia berikan harus kita sikapi dengan cerdas dengan menggunakan “tools” yang berguna di dalam membantu kita menemukan jalan keluar dari setiap problematika kehidupan ini. Alat-alat yang dimaksud adalah :

Doa

Dan Tuhanmu berfirman: " Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al Mukmin : 60)


Doa itu intinya ibadah, doa juga merupakan senjatanya kaum mukminin, oleh karena itu perbanyaklah berdoa kepada-Nya dalam setiap keadaan, terlebih lagi di kala kita sedang menghadapi banyak masalah. Sebab, kepada siapa lagi kita berharap dan menggantungkan diri kalau bukan kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Dialah Allahus shamad, Janganlah sekali-kali kita menggantungkan harapan kepada manusia, karena pasti akan berakhir dengan kekecewaan. Berdoalah di saat hujan rintik-rintik turun, atau berdoalah di antara adzan dan iqamah, atau di sepertiga malam terakhir, atau pada saat sujud di akhir shalat, atau di saat berbuka puasa, karena di saat-saat itulah merupakan saat yang mustajabah. Berdoalah dengan menyertakan hati yang tertuju kepada-Nya disertai ketundukan dan kepasrahan, jadikan diri kita selemah-lemahnya makhluk di hadapan Allah SWT.

Tawashul

Carilah jalan atau perantara yang dapat menyebabkan kita memperoleh keberkahan hidup, seperti dengan jalan sadaqah jariyah, tidak ada seorang pun ahli sadaqah mengalami kebangkrutan, melainkan dia akan memperoleh keberkahan dan bertambahnya harta. Sadaqah mampu memperpanjang umur dan juga mampu mencairkan hati yang keras dan gelap, dia juga mampu memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan juga mampu menolak bala atau keburukan, bagi para pelakunya, atas perkenan Allah SWT.

Tawashul juga bisa dilakukan dengan memohon doa kepada para alim ulama yang dekat kepada Allah, memohonlah agar kita didoakan menjadi hamba yang saleh dan dilepaskan dari setiap kesulitan oleh beliau (ulama). Insyaallah dengan wasilah doanya kita akan memperoleh keberkahan hidup.

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Yusuf : 97-98)

(Rasulullah saw. meminta di doakan oleh sahabat Umar ra.)
Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Saya meminta izin kepada Nabi s.a.w.untuk menunaikan umrah, lalu beliau mengizinkan dan bersabda: "Jangan melupakan kami,wahai saudaraku, untuk mendoakan kami…" Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Oleh : Ahmad Ginanto
31 Agustus 2014
Sumber Kutipan Hadist Anas ra. Hasan bin Ali Assqqaf, Mukjizat Surah-Surah Al Quran, hal : 45.
Sumber Kutipan Hadist Umar ra. Imam Nawawi, Riyyadus shalihin jilid 1, 44 : 204.

Selasa, 07 Oktober 2014

Cara Cerdas Lepas dari setiap Kesulitan menurut Islam - 1

Kehidupan di dunia selain menawarkan kebahagiaan, dia juga mampu memaksa kita untuk menelan pil pahit kehidupan. Manis pahitnya kehidupan ini akan terus bergulir di sepanjang kehidupan kita, roda berputar, ada masanya kita mengalami masa-masa bahagia sampai kita lupa bahwa kebahagiaan itu hanyalah sementara. Ada pula masanya kita mengalami kepahitan hidup yang menyebabkan kehidupan ini terasa begitu lama. Islam memandang keduanya,kebahagiaan dan kesedihan, sebagai suatu bentuk ujian yang diberikan Allah SWT kepada setiap hambanya. Setiap ujian yang Dia berikan harus kita sikapi dengan cerdas dengan menggunakan “tools” yang berguna di dalam membantu kita menemukan jalan keluar dari setiap problematika kehidupan ini. Alat-alat yang dimaksud adalah :

Al Quranul Karim

Al quran menawarkan berbagai ayat yang mampu membantu kita terlepas dari setiap masalah kehidupan di dunia, maka bacalah dia setiap hari-hari kita. Sebagai contoh, jika kita mempunyai hutang yang besar, bacalah ayat 26 Surat Ali Imran, sebagaimana hadist berikut ini,

Dari Sayyidina Anas ibnu Malik, Rasulullah saw. Bersabda kepada Muadz,”Maukah kamu aku ajarkan satu doa, yang andaikan kamu mempunyai tanggungan hutang sebesar Gunung Uhud pasti Allah membayarnya untukmu! Bacalah Muadz, Allahuma malikal mulki….dst.(HR Ath-Thabrani)

Asmaullah Al Husna

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raaf :180)


Asmaullah Al Husna (Nama-nama Allah Yang Terbaik) itu di dalamnya terdapat ismullah al ‘adzhom, yang dengannya setiap doa akan dikabulkan. Jadikan asmaul husna ini sebagai dzikir harian, boleh semuanya dibaca atau boleh juga diambil salah satu nama saja yang kita jadikan sebagai dzikir harian, misalnya bagi orang yang sedang menderita penyakit berat, atau sedang berduka, atau sedang mengalami masa-masa sulit maka perbanyaklah dzikir dengan mengucapkan Ya Lathif (Yang Maha Halus), jika ingin dilapangkan rezekinya oleh Allah maka perbanyaklah membaca Ya Karim (Yang Maha Mulia) atau Ya Wahhab (Yang Maha Pemberi Karunia).

Shalat

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu,sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ( QS Al Baqarah : 153)

Shalat merupakan alat manusia untuk bermikraj kepada Allah, dengan shalat yang khusyuk setiap masalah yang kita hadapi akan diberikan jalan keluarnya. Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa Rasulullah saw. selalu melakukan shalat jika menghadapi masalah berat. Lakukanlah shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir. Perbanyaklah berdoa pada saat sujud, karena sujud merupakan jarak terdekat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Atau guru saya menganjurkan agar kita memperbanyak membaca wardzuqni pada saat duduk iftirasy agar Allah melapangkan rezeki kita.

Shalawat

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Hai orang-orang yang beriman , bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al Ahzab : 56)

Ulama mengatakan perbanyaklah bershalawat kepada Rasulullah karena dengannya kita akan memperoleh syafaat Rasulullah di hari pembalasan, dia juga menenteramkan hati yang gelisah serta mempermudah segala urusan.
(Bersambung)

Oleh : Ahmad Ginanto
31 Agustus 2014
Sumber Kutipan Hadist Anas ra. Hasan bin Ali Assqqaf, Mukjizat Surah-Surah Al Quran, hal : 45.
Sumber Kutipan Hadist Umar ra. Imam Nawawi, Riyyadus shalihin jilid 1, 44 : 204.

Rabu, 01 Oktober 2014

Kriteria Hijab Syar’i

Saudari muslimah, sudahkah Anda berhijab? Hijab bukan hal yang asing lagi dewasa ini. Hampir setiap hari kita bisa menyaksikan para muslimah berhijab di mana-mana. Baik di masjid, sekolah, tempat kerja, pasar tradisional hingga supermarket. Kaum muslimah berlomba-lomba mengenakan busana muslimah sebagai wujud ketundukan pada syariat sekaligus .identitas diri seorang muslimah yang baik.

Namun, pertanyaannya adalah sudah sesuai syariatkah hijab yang kita gunakan? Yah, sebagaimana dimaklumi, hijab yang digunakan muslimah dewasa ini banyak yang keluar dari koridor syar’i. Seperti maraknya fenomena jilboob atau jilbab lepat di tengah-tengah remaja putri kita. Nah, sudahkah hijab yang digunakan sesuai syar’i? Yuk intip 5 kriteria hijab syar’I berikut ini:

Menutupi Seluruh Tubuh

Hijab yang syar’I harus menutupi seluruh tubuh, sebagaimana firman Allah dalam Al quran:

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (QS. Al Ahzaab: 59).

Terkait kriteria menutupi seluruh tubuh ini memang masih ada perbedaan pandangan di kalangan ulama. Apakah yang dimaksud seluruh tubuh itu termasuk muka dan telapak tangan atau tidak? Namun, sebagian ulama memfatwakan diperbolehkan memperlihatkan muka dan telapak tangan. Menutup wajah (menggunakan cadar) dan telapak tangan adalah sunnah, bukan suatu hal yang diwajibkan. Jadi, menutupi seluruh tubuh yang dimaksud oleh ayat di atas adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Tebal, Tidak Transparan

Hijab syar’I haruslah terbuat dari kain yang tebal, dan tidak tipis. Karena tujuan menggunakan hijab adalah untuk menutupi aurat. Jika hijab yang digunakan masih memperlihatkan aurat, artinya hijab yang digunakan belum sesuai syar’i. Nah, hijab yang tipis dan transparan masih memperlihatkan anggota tubuh yang ditutupinya.

Rasulullah Saw bersabda, “Diantara yang termasuk ahli neraka ialah wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berjalan dengan lenggak lenggok untuk merayu dan untuk dikagumi. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium harumnya.” (HR. Muslim)

Longgar, Tidak Ketat

“Diantara yang termasuk ahli neraka ialah wanita yang berpakaian tapi telanjang, …” (HR. Muslim).

Hijab syar’I haruslah longgar, tidak ketat dan tidak membentuk lekuk tubuh. Lengan baju tidak membentuk lengan, demikian juga bagian badan, pantat dan kaki. Jika pakaian yang Anda gunakan masih membentuk tubuh, sebaiknya ditutupi dengan pakaian luar yang bisa menutupi lekuk-lekuk tubuh tersebut. Inilah yang disebut oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya sebagai ‘berpakaian tapi telanjang’.

Tidak Menyerupai Pakaian Lelaki

Kriteria hijab syar’I lainnya adalah tidak menyerupai pakaian laki-laki. Dalam salah satu hadist-nya Rasulullah Saw bersabda:

“Nabi melaknat seorang laki-laki yang berpakaian seperti perempuan dan seorang perempuan yang memakai pakaian seperti laki-laki.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Tidak Dimaksudkan Untuk Perhiasan Diri

Hijab untuk perhiasan diri maksudnya adalah hijab yang terbuat dari bahan-bahan yang gemerlap sehingga memancing decak kagum dari orang lain yang melihatnya. Hijab sendiri tujuannya adalah untuk menutupi dan menjaga perhiasan atau keindahan dari wanita tersebut. Sebagaimana firman Allah Swt:

“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya.” (QS. An Nuur: 31)

Demikian 5 karakteristik hijab syar’I yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat!

Oleh : Neti Suriana
 
Template designed by Liza Burhan