Senin, 13 Oktober 2014

Dunia di Tangan dan Akhirat di Hati

Suatu hari Umar bin Khattab berkunjung ke rumah Rasulullah Saw. Ia mendapati Rasulullah Saw sedang berbaring pada selembar tikar. Setelah masuk dan duduk di samping Rasulullah, Umar bin Khattab mengetahui bahwa tidak ada apa-apa yang menjadi alas tidur Rasulullah selain selembar tikar dan sehelai mantel. Umar bin Khattab bisa melihat dengan jelas bekas guratan tikar pada kulit tubuh Rasulullah.

Umar bin Khattab mengamati kondisi rumah Rasulullah. Sangat sederhana. Di pojok rumah Umar melihat satu takar gandum. Di dinding tergantung satu lembar kulit yang sudah di samak. Umar menitikkan air mata menyaksikan kesederhanaan manusia yang mulia ini. “Mengapa Engkau menangis wahai Ibnul Khattab?” tanya Rasulullah.

“Ya Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis. Melihat gurat-gurat tikar di lambung Engkau dan rumah yang hanya diisi barang-barang itu. Padahal Kisra dan Kaisar hidup dalam gelimang harta kemewahan. Engkau adalah Nabi Allah, manusia pilihan. Seharusnya Engkau jauh lebih layak mendapatkan kemewahan yang lebih.”

“Wahai Ibnul Khattab, apakah Engkau tidak ridha, kita mendapatkan akhirat, sedang mereka hanya mendapatkan dunia?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Anas ra.)

======

Dunia beserta isi dan dinamikanya adalah perhiasan. Keindahannya tak jarang melenakan hati. Hingga hari demi hari hanya dihiasi oleh motivasi duniawi yang tiada bertepi. Banyak manusia yang kemudian lupa dengan tujuan hakiki hidup ini. Banyak jiwa yang lalai dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Rasul dan sahabat adalah generasi terbaik sepanjang masa. Kesederhanaan yang mereka contohkan bukan karena terpaksa. Tidak berharta bukan karena kurang usaha. Melainkan pilihan hidup yang bersahaja. Jika mereka cenderung pada dunia, mereka bisa saja memiliki kemewahan seperti raja dan kaisar yang dipuja-puja. Tapi mereka memilih untuk hidup mulia di jalan dakwah. Mereka meletakkan dunia di tangan dan memeluk akhirat kuat-kuat di hatinya.

Hidup zuhud dan bersahaja, itulah yang Rasul ajarkan pada umatnya. Kita adalah generasi islam yang selayaknya meneladani jalan hidup beliau. Tidak mudah memang hidup bersahaja di tengah gemerlap dunia menggoda. Apalagi bagi kita generasi yang hidup di era milenium ini. Di mana manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan duniawi yang tak bertepi.

Hidup zuhud dan bersahaja bukan berarti kita harus menarik diri dari dunia. Kita tetap butuh dunia untuk meraih kebahagiaan akhirat. Dunia adalah ladang yang harus ditanami dengan amal-amal hasanah untuk kebahagiaan di hari akhir. Hanya saja, kita tidak boleh terpenjara oleh ambisi dunia yang membutakan hati. Rebutlah kesuksesan dunia dengan ikhtiar yang diridhoi-Nya. Yakin dan terus menguatkan keyakinan bahwa rezeki dunia tidak akan jatuh ke tangan orang lain.

Hidup zuhud dan bersahaja bukan berarti menutup diri dari hiruk pikuk urusan dunia. Kita tetap membuka diri dengan kehidupan dunia. Namun kita harus memiliki tameng yang kuat agar tidak larut dalam hiruk pikuk dunia yang melenakan diri tersebut. Hidup zuhud dan bersahaja artinya mampu menutup diri dari pintu keburukan dalam meraih rezeki duniawi. Seperti menutup diri dari budaya korupsi, suap menyuap, tipu menipu dan budaya buruk lain demi kemewahan duniawi.

Membuka diri pada dunia, namun tetap waspada. Itulah esensi dari hidup zuhud dan bersahaja. Ketika kita menjemput dunia sebagai pedagang, maka jadilah pedagang yang jujur. Seperti pedagang kaki lima yang tidak mengurangi timbangan, dan pedagang buah yang tidak menyembunyikan cacat pada barang dagangannya. Ketika kita menjemput dunia sebagai pejabat, maka jadilah pejabat yang jujur dan profesional. Seperti Umar bin Abdul Aziz yang tidak berani menggunakan cahaya lentera negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Ketika kita memegang dunia sebagai pemimpin, jadilah pemimpin yang adil dan bersahaja. Seperti Umar bin Khattab yang rela hidup seadanya karena ingin berlaku adil terhadap rakyatnya.

Jadi, apapun profesi dan posisi kita di dunia, teladanilah hidup zuhud dan bersahaja ala Nabi dan sahabat. Karena, gaya hidup inilah yang akan mengantarkan kita pribadi yang dicintai oleh penduduk langit dan bumi. Gaya hidup inilah yang akan membawa kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

“Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

Sebagaimana Rasulullah Saw menggambarkan dalam hadistnya di atas. Ketika kita mampu zuhud terhadap dunia, maka Allah dan penduduk langit akan mencintai kita. Sementara ketika kita mampu zuhud pada apa yang di tangan manusia, niscaya manusia dan penduduk bumi akan mencintai kita.

Hidup zuhud adalah hidup yang bersahaja dan membahagiakan. Orang yang zuhud berusaha untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan bersabar dengan apa yang tidak dimiliki. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berguna bagi diri, demikian juga dengan hal-hal yang dapat merugikan orang lain.

Semoga kita bisa mencontoh gaya hidup zuhud dan bersahaja yang dicontohkan oleh Rasul dan sahabat. Hingga kita layak menjadi pribadi yang dicintai di dunia dan akhiran. Wallahu’alam.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Kandahlawy, S.M.Y. 1998. Sirah Shahabat, Keteladanan Orang-orang di Sekitar Nabi. Jakarta: Pustaka Al-kautsar.

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan