Jumat, 07 November 2014

Memahami Sisi Medis Shalat

Bila kita kaji lebih jauh, shalat yang diamanatkan Allah kepada para nabi-Nya itu bukan sekedar gerakan dan bacaan. Gerakan dan bacaan itu, sengaja dikreasi dengan penuh keseimbangan. Dalam setiap gerakan dan bacaannya, kaya akan khazanah kekuatan supranatural, terapi kesehatan, dan hukum syar’i.

Kaum sufi, ahli fiqih, dan pakar medis, bila diminta bicara tentang shalat, tentu akan berlainan sudut pandangannya, walau tidak saling bertentangan. Mereka bicara berdasarkan ilmu dan pengalaman spiritual masing-masing. Kaum sufi mungkin akan berbicara metafisis dan bathiniyah. Menurut kaum sufi, shalat merupakan wahana meditasi dan penyegar atas dahaga rohani. Ia bisa memejamkan mata hati, shalat juga momen penting berhadapan dengan Sang Pencipta.

Ahli fikih berbicara lain, shalat akan sah bila gerakannya sesuai dengan kaidah fikih. Satu saja gerakan shalat hilang. Maka batal shalatnya. Bacaan shalat juga sudah diatur, dimulai ucapan takbir, sampai bacaan salam. Gerakan dan jumlah rakaat dalam shalat mutlak tidak bisa kurang atau lebih.

Gerakan shalat sangat unik dan menyehatkan. Diinspirasi gerakan shalat itu, kemudian muncul senam ergonomik yang mirip dengan gerakan shalat. Setelah senam ini, biasanya dilakukan pemijatan, hingga pegal dan linu berkurang. Gerakan senam ini, menjamin kesehatan seumur hidup. Begitulah shalat, selalu menginspirasi banyak hal.

Gerakan shalat melenturkan urat saraf, mengaktifkan kelenjar keringat, dan sistem pemanas tubuh. Diawali dengan takbiratul ihram, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu. Gerakan ini membuka dada dan menarik nafas untuk mengaliri darah dari lengan ke otak, mata, dan telinga, sehingga terjadi keseimbangan tubuh. Dilanjutkan bersedekap dengan menjepit pembuluh darah balik di lengan kiri. Gerakan ini, mencegah pengapuran pada pergelangan tangan, karena di sini banyak saraf sensorik dan motorik.


Shalat merupakan wahana meditasi dan penyegar

Saat ruku, telapak tangan diletakkan di atas lutut. Bila dilakukan dengan tenang dan maksimal akan merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang sebagai saraf sentral manusia. Ruku juga memelihara tuas sistem keringat di punggung, pinggang, paha, dan betis belakang. Tulang leher, tengkuk, dan saluran saraf memori dapat pula terjaga kelenturannya dengan ruku.


Ruku memelihara tuas sistem keringat di punggung, pinggang, paha, dan betis belakang. Tulang leher, tengkuk, dan saluran saraf memori.

Saat berdiri dari ruku, mata kita tetap menatap ke tempat sujud. Saat berdiri dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun, sehingga tekanan darah ke otak berkurang. Ini berguna menjaga saraf keseimbangan dan pencegah pingsan tiba-tiba. Kemudian ketika sujud, kepala kita berada di bawah, itu berarti posisinya lebih rendah dari jantung. Dengan posisi seperti itu, darah segar mengalir deras ke otak, mata, telinga, pundak, dan leher.

Otak kita butuh oksigen secara kontinyu,. Dengan sujud , berliter-liter darah yang membawa oksigen masuk ke otak. Sujud juga mencegah sumbatan pembuluh darah ke jantung. Resiko terserang jantung koroner dapat kita cegah dengan sujud yang optimal. Setelah itu ada duduk diantara dua sujud, gerakan ini menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf tubuh. Kelenturan saraf paha bagian dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari kaki ikut terjaga.

Oleh : Dodi Budiana
Sumber : Majalah Bulanan Variasari edisi bulan oktober 2006
Sumber Foto : koleksi foto M Husen, Majalah Variasari

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan