Rabu, 04 Maret 2015

Allah Begitu Dekat dengan Kita

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Ayat 1. (Q.S. Qaf [50]: 16)

Firman Allah swt ini memberikan sinyal kepada orang yang beriman kepada al-Qur’an bahwa Allah begitu dekat dengannya. Kedekatan tak tanggung-tanggung, lebih dekat dari urat lehernya. Bila Allah begitu dekat, pastinya manusia tak perlu ‘galau’ menjalani kehidupan ini. Hutang yang banyak dan mesti dilunasi tak perlu terlalu dipikirkan hingga membuat stres. Anak yang nakal tak perlu dipusingkan hingga mengalami sakit keras atau stroke. Penyakit yang tak kunjung sembuh-sembuh mestinya tak membuatnya banyak mengeluh.

Ingatlah saudaraku, pembaca budiman, Allah sangat dekat dengan kita. Tak pernah jauh dan menjauhi kita. Mestinya, kita yang sadar diri. Bila punya problem atau masalah, kian dekatlah dengan Allah. Perbaiki diri dan ibadah kita. Barangkali tindakan kita yang sebelumnya mengandung banyak masalah, sehingga kesulitan yang didatangkan-Nya hanya untuk pengingat agar kita kembali kepada-Nya. Artinya, Allah sudah menyiapkan jalan keluar yang sangat baik bagi kita.

Kesombongan kita, terkadang, bisa menjadi penyebab datangnya kesusahan. Terlalu berpegang pada pekerjaan atau posisi kerja saat ini membuat kita lupa bahwa Allah Sang Pemberi rezeki. Terlalu mencintai anak sampai-sampai membuat kita sedikit ibadah kepada-Nya hingga akhirnya Dia menjadikan anak tersebut nakal atau sakit. Ingatlah, bahwa kesulitan yang dialami adalah pengingat agar kita kembali kepada-Nya. Pengingat bahwa Allah begitu dekat dengan kita.

Semua yang Ditakdirkan Adalah Baik

Ketika kesulitan mengimpit, kita merasa menjadi manusia yang paling buruk dan hina. Seakan-akan orang lain tidak mengalami nasib yang lebih parah dari apa yang kita rasakan. Padahal, belum tentu. Bisa jadi ada orang yang lebih mengalami nasib yang lebih ironi dibandingkan kita. Yang mesti kita pikirkan adalah bahwa apa yang ditakdirkan-Nya adalah baik bagi kita. Bukankah sudah sering kita dengar adagium, ‘Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Sedangkan baik menurut Allah pasti baik untuk kita”? Pesan tersebut senada dengan firman-Nya,

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia Amat baik bagimu. Dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia Amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Ayat 2. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

Karena itu, mari kita yang sedang dilanda kesusahan, dililit hutang atau problematika yang sangat berat sekali, dekatkan diri kepada Allah. Apalagi Dia sudah menyatakan kedekatan-Nya kepada kita sebelum kita menyatakan kedekatan kepada-Nya. Dia sudah mengetahui apa yang terlintas di hati kita. Karena itu, mendekat kepada-Nya adalah jalan utama. Bisa dilakukan dengan berdoa, berzikir, shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Ingatlah selalu firman-Nya,

“Dan jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakan bahwa sesungguhnya Aku dekat. Aku akan mengabulkan doa orang yang berdoa jika ia meminta kepada-Ku. Maka hendaknya mereka mematuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapatkan petunjuk.”
Ayat 3. (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Tidak ada yang ditakdirkan Allah sebagai kesalahan. Yang ditakdirkan-Nya adalah baik untuk kita. Tinggal sepintar apa kita menyikapinya. Jangan pernah terbersit prasangka buruk kepada-Nya. Sebab, Dia mengetahui apa yang terlintas di hati kita. Pikirkan hal positif yang dihadirkan di dalam masalah tersebut, maka Allah bakal memberikan solusi terhadap persoalan dan impitan hati yang sedang dirasakan. Yakinlah, Allah begitu dekat dengan kita.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution
Referensi ayat:
1. http://quran.com/50/16
2. http://quran.com/2/216
3. http://quran.com/2/186

Rabu, 04 Februari 2015

Meraih Kunci Surga dengan Menjaga Lisan

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan lisan untuk berkomunikasi secara verbal dengan sesamanya. Tanpa lisan, manusia akan kesulitan menyampaikan apa yang ada di pikiran dan hatinya pada manusia lainnya. Karena itu, peran lisan sangat penting dalam menjaga hubungan baik dengan sesama. Ketika kita bisa menjaga lisan dengan baik, maka hubungan dengan sesama juga akan terjalin dengan baik. Sebaliknya, jika kita tidak bisa menjaga lisan, maka hubungan dengan sesama akan rentan rusak.

Menjaga lisan tidak hanya menjadi kunci keberhasilan hubungan baik dengan sesama. Tetapi juga menjadi kunci untuk meraih surganya Allah dan menyelamatkan manusia dari siksa neraka.

Dari Muadz bin Jabal ra. berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah beritahu aku amal yang akan memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.” Beliau bersabda, Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah swt. Engkau harus menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” Hingga firman-Nya: “….sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajadah: 16-17). Kemudian beliau bersabda kembali, “maukah kuberitahu kalian pangkal agama, tiangnya dan puncak tertingginya?” Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw bersabda, “Pangkal agama adalah Islam (masuk islam dengan syahadat) tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “maukah kalian aku beritahu tentang kunci dari semua itu? Saya (Mu’adz ra) menjawab, “mau wahai Rasulullah.” Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “jagalah ini!” Saya (Mu’adz ra) berkata, “wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?” Beliau kembali menjawab, “Celakalah engkau, bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur ke dalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu itu karena jeratan lisannya?” (HR. Tirmidzi ia berkata, “Hadist ini hasan shahih).

Hadist 1. Hadist An Nawawi 29

Hadist ini mengingatkan pada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga lisan atau mulut. Baik terkait dengan apa yang kita ucapkan maupun terkait dengan apa yang kita konsumsi. Hindari mengucapkan perkataan, kecuali yang baik. Dan hindari mengonsumsi sesuatu, kecuali yang dihalalkan.

Memang tidak mudah menjaga lisan terutama dalam berinteraksi dengan sesama. Karena ada nafsu, bisikan syetan dan amarah yang terkadang ikut mengendalikan pikiran dan hati kita. Sehingga, kata-kata atau ucapan yang keluar dari lisan kita terkadang tidak terkontrol dengan baik. Jadi, pantaslah jika Allah memberikan pahala yang sangat besar bagi mereka yang mampu menjaga lisannya dengan baik.

Jaminan Surga untuk Mereka yang Komitmen Menjaga Lisan

Begitu besarnya pengaruh lisan bagi agama seseorang. Bahkan, Rasulullah Saw dalam berbagai riwayat disebutkan selalu mendorong ummatnya agar mampu menjaga lisan dengan baik.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakr Al Muqaddami telah menceritakan kepada kami Umar bin Ali dia mendengar Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Barangsiapa dapat menjamin bagiku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga."

Hadist 2. Sahih al-Bukhari 6474

Setiap insan memiliki kebebasan untuk berbicara apa saja. Namun, sebagai makhluk sosial ada batasan-batasan agar tercipta harmoni dalam hubungan sosial satu sama lain. Selain itu, sebagai makhluk beragama kebebasan lisan juga dipagari dengan batasan-batasan norma agama. Pagar pembatas tersebut bukanlah untuk menghambat manusia dalam berkomunikasi. Akan tetapi untuk menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia.

Satu Kata Menjadi Penentu Kedudukan

Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan pada setiap ummatnya. Satu kata yang meluncur dari lisan bisa menjadi penentu kedudukan seorang hamba di akhirat kelak. Sebagaimana yang telah sabda Rasulullah Saw dalam haditsnya,

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Munir dia mendengar Abu An Nadlr telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah yaitu Ibnu Dinar dari Ayahnya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sungguh seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka."

Hadist 3. Shahih Bukhari 6478

Sahabat blogger, demikian pentingnya mengawal lisan kita agar senantiasa terjaga dari mengucapkan hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah swt. Sudah sewajarnya, setiap kata yang meluncur dari lisan kita adalah kebaikan. Karena setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan lain yang berlipat ganda. Dan pada akhirnya akan mengantarkan kita pada kedudukan yang terbaik di sisi-Nya. Semoga kita menjadi hamba Allah yang senantiasa menjaga lisan. Aamiin.

Oleh: Neti Suriana
Referensi Hadits:
1. http://sunnah.com/nawawi40/29
2. http://sunnah.com/bukhari/81/6474
3. http://sunnah.com/bukhari/81/6478

Rabu, 07 Januari 2015

Wahai Muslimah, Perbanyaklah Zikir kepada Allah

Dari Yusairah RA – Salah seorang perempuan dari kaum Muhajirin berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Hendaklah kalian membaca tasbih, tahlil, taqdis dan hitunglah dengan jarimu. Sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya dan berbicara. Dan janganlah kalian lalai (dari zikir) sehingga melupakan rahmat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Lewat sabda Rasulullah Saw mengingatkan para muslimah untuk senantiasa berzikir kepada Allah. Kapan pun itu waktunya. Baik saat suci ataupun haid, tetap semangat berzikir kepada Allah. Sebab zikir akan mendatangkan rahmat-Nya. Bila sudah mendapatkan kasih sayang-Nya tak ada hidup yang tak bahagia, kecuali orang-orang yang tak menginginkan akhirat.

Banyak wanita, ketika haidnya datang, ia merasa menyesal. Alasannya sederhana, karena tak bisa ibadah kepada Allah. Bila datang problem, baginya tak bisa shalat. Pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru. Ibadah bukan hanya shalat dan puasa saja. Cukup banyak ibadah yang bisa dilakukan, meski sedang haid.

Apa sebenarnya definisi ibadah? Ibadah adalah perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Karena itu, ibadah terbagi kepada dua. Ibadah mahdhah dan ibadah muamalah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang bersifat ta’abbudi, ibadah yang hubungannya langsung kepada Allah Swt, seperti shalat, puasa, haji, zikir dan lain-lain. Sedangkan ibadah muamalah adalah ibadah yang hubungannya dengan sesama manusia, seperti silaturrahmi, bersedekah dan lain-lain.

Dari definisi ibadah tersebut, mestinya wanita muslimah yang haid tak perlu galau. Untuk ibadah kepada Allah masih bisa dilakukan dengan zikir. Di dalam hadis ini dijelaskan bahwa wanita tak boleh lepas hari yang dilaluinya dengan zikir tasbih, tahlil dan taqdis. Malah, lebih baik menghitungnya dengan jari. Karena kelak di akhirat, jari ini akan ditanya pertanggungjawabannya. Maka ia bisa menjawab, bahwa ia digunakan lebih banyak untuk berzikir kepada Allah Swt.

Ada juga hadis Rasulullah Saw yang lain untuk para muslimah yang mengandung makna yang sama, yaitu berzikir kepada Allah. Nabi Saw bersabda,

“Wahai kaum perempuan, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kebanyakan kalian itu penghuni neraka.”

Lalu salah seorang wanita dengan penuh sopan bertanya, ‘wahai Rasulullah, kenapa kaum kami yang banyak penghuni neraka?’ Beliau bersabda, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari (jasa)suami, dan aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agama yang lebih banyak menurut orang berakal daripada kalian.”

Wanita tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan agama?” Beliau bersabda, “Yang dimaksud dengan kurang akal adalah persaksian dua perempuan sebanding dengan persaksian satu laki-laki. Inilah kekurangan akal. Dan perempuan tidak shalat selama beberapa malam dan juga tidak boleh berpuasa Ramadhan. Inilah yang dimaksud dengan kekurangan agama.”
(HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Imam al-Ghazali mengajarkan ada tujuh dzikir harian yang bisa dilakukan muslimah, baik saat suci maupun haid.
  1. Pada hari Jumat, perbanyaklah membaca Ya Allah. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.
  2. Pada hari Sabtu, perbanyaklah membaca Laa Ilaaha Illallah. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.
  3. Pada hari Minggu, perbanyaklah membaca Ya Hayyu Ya Qayyum. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.
  4. Pada hari Senin, perbanyaklah membaca Laa Haula Walaa Quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.
  5. Pada hari Selasa, perbanyaklah membaca Shallahu ‘ala Muhammad. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.
  6. Pada hari Rabu, perbanyaklah membaca astaghfirullahal ‘azhiim. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.
  7. Pada hari Kamis, perbanyaklah membaca Subhanallahil ‘azhiimi wabihamdih. Jika mampu, bacalah sebanyak 1000 kali. Jika tidak mampu, bacalah seberapa sanggup.

Karena itu, wahai para muslimah, perbanyaklah zikir kepada Allah Swt. Sebab, tak ada yang dapat membantu dan menolong kita, kecuali Allah. Jangan pernah merasa ketika haid, kedekatan kepada Allah semakin berkurang. Justru, di saat haid kedekatan kepada Allah tetap terus terjaga. Malah, kesempatan mendulang pahala pun sangat terbuka lebar.

Bila selama ini wanita muslimah sudah biasa melakukan ibadah shalat sunnah, namun lantaran haid tidak bisa melakukannya. Maka Allah, tetap memberikan pahala. Kaidah fikih menyatakan,

“Seseorang yang tidak dapat melaksanakan ibadah karena suatu halangan, padahal ia berniat untuk melakukannya jika tiada halangan, maka ia mendapatkan pahala.”

Diperkuat lagi dengan penuturan Aisyah, istri Rasulullah SAW. ‘Aisyah berkata, “Nabi Saw datang menemuiku. Ketika itu, aku sedang menangis. Rasulullah Saw bertanya, “Ada apa denganmu? Aku menjawab, “Aku sedang tidak boleh shalat.” Beliau berkata, “Itu tidak menjadi soal bagimu. Kamu sama dengan anak-anak perempuan Adam lainnya. Allah telah menakdirkan atasmu seperti Dia takdirkan atas mereka. Karena itu tetaplah kamu dalam ibadah hajimu. Barangkali Allah ingin memberimu rezeki dua pahala.” Aisyah berkata, “Akhirnya aku terus melaksanakan ibadah hajiku hingga kami berangkat dari Mina. Kemudian kami singgah di Muhashshab. Lalu Rasulullah Saw memanggil Abdurrahman. Beliau berkata, “Pergilah kamu bersama saudara perempuan itu ke Haram, kemudian berihramlah untuk umrah!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

Jumat, 02 Januari 2015

Surganya anak di bawah kaki ibu


Tulisan sudah dipindah ke Pendidikan Anak.
 
Template designed by Liza Burhan