Rabu, 27 Juni 2018

Ibadah Shalat Dan Shalatnya Wanita Muslim Yang Terhormat ( Part 1 )
Belajar Menjalankan Ibadah Shalat Yang Khusyuk Dan Benar

Sudah terbit di: https://steemit.com/pelitaillahi/@lerengbukit/ibadah-shalat-dan-shalatnya-wanita-muslim-yang-terhormat-part-1-belajar-menjalankan-ibadah-shalat-yang-khusyuk-dan-benar

Di dalam ajaran agama Islam setiap muslim baik kaum pria maupun wanita harus menjalankan setiap kewajiban agama, seperti salah satu contohnya yaitu kewajiban dalam menjalankan shalat 5 waktu setiap hari, yang merupakan salah satu ibadah yang menjadi bagian dari rukun Islam. Shalat adalah ibadah yang bukan hanya sekedar kewajiban, tetapi juga merupakan sebuah kebutuhan pokok ( primer ) untuk jasmani. Contohnya ketika sahabat muslim tidak mengkonsumsi makanan, maka akibat yang terjadi dari perbuatan tersebut adalah rusaknya jasmani. Tetapi ketika sahabat muslim tidak melaksanakan shalat, maka akibat yang terjadi akan lebih berbahaya dengan terjadinya krisis jati diri dan moral pada muslim, karena kehampaan pada nurani dan juga spiritualnya.


Gambar 1. Shalat Yang Khusyuk Dan Benar

Maka dari itu perlu sahabat muslim ingat bahwa, shalat bukanlah sekedar rangkaian gerakan yang harus dilakukan dan juga sekumpulan doa yang harus diucapkan berdasarkan ketentuan yang ada. Namun lebih dari semua itu shalat adalah suatu aktivitas intelektual, aktivitas yang membangun mental dan juga aktivitas dalam mendaki spiritual yang membuat terhubungnya kesadaran paling tinggi pada manusia dengan ALLAH. Di mana shalat adalah ibadah yang begitu sarat akan makna, dan berguna bagi sahabat muslim dalam membentuk pribadi yang unggul, sebab isi yang terkandung di dalam shalat merupakan latihan untuk pembangunan mental dan spiritual.

Seperti mencapai kesuksesan di dalam hidup yang di mana kuncinya adalah dengan menjalin komunikasi yang baik dengan Allah, maka dengan begitu semua yang telah sahabat muslim usahakan dan pasrahkan akan mendapatkan jalan yang terbaik. Dengan cara menjalankan shalat 5 waktu setiap harinya dengan kekhusyuan dan benar, karena shalat 17 rakaat yang sahabat jalankan berarti bahwa 94x sahabat telah mengucapkan takbir pokok, yang dapat diartikan juga bahwa sahabat telah 94x mengalami kenaikan derajat dalam kedekatan pada ALLAH. Di mana untuk menjalankan ibadah shalat secara khusyuk, sahabat muslim harus terlebih dahulu mempelajari tata cara shalat dengan benar, sebab ibadah shalat yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat muslim memiliki beberapa perbedaan mendasar dalam pelaksanaan shalat pada kaum pria dan wanita.

Dan hal ini perlu diperhatikan baik untuk kaum wanita itu sendiri sebagai pegangannya, maupun kaum pria sebagai calon imam sholeh impian yang mampu menuntun istri ke dalam surganya ALLAH. Ingatlah bahwa sesuatu hal yang baik akan dipasangkan dengan yang baik juga, jadi pada intinya apabila sahabat muslim ingin mendapatkan yang terbaik sahabat harus memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik, dengan terus belajar dan menambah pengetahuan serta pemahaman tentang Islam seperti dalam pembelajaran beberapa hal perbedaan mendasar dalam shalat ini. Untuk menjalankan shalat 5 waktu secara benar dan khusyu, karena dengan shalat maka seorang muslim akan mendapatkan peningkatan pada kualitas dalam diri ke arah yang lebih baik.

Tentu untuk para muslimah yang telah sejak kecil ditanamkan oleh orangtua hal ini bukanlah sebuah masalah, tetapi untuk para muslimah yang baru berniat ingin belajar atau wanita mualaf yang mengikuti kepercayaan dari pasanganya hal ini akan menjadi persoalan yang baru. Dan di sini diperlukan kesadaran dalam meniatkan diri untuk belajar mengenal Islam khususnya dalam ibadah shalat terlebih dahulu, dengan cara bertanya kepada wanita muslim lainnya, yang memiliki pengetahuan mendalam akan Islam yang dipercaya menjadi panutan dalam bermasyarakat seperti ustadzah.

Di sini juga peran pria sebagai suami dan pemimpin ( Imam ) dibutuhkan untuk membimbing pasangannya menjadi wanita terhormat, dengan menanamkan ajaran agama dalam beribadah dengan benar dan khusyuk. Dengan begitu, peran kaum pria dalam memahami beberapa perbedaan mendasar dalam pelaksanaan shalat pada kaum pria dan wanita memang diperlukan, agar pasangan bisa menjalankan ibadah dengan benar dan khusyuk sehingga terjalin hubungan kedekatan dengan Rabb nya.

Karena di dalam benar dan kekhusyukan shalatnya wanita muslim, maka di sana sahabat muslim akan menemukan pasangan yang mampu memberikan kekuatan yang terselip di dalam doa di setiap sujudnya. Dan shalatnya wanita muslim terhormat yang dijalankan dengan benar dan khusyuk, akan dapat membuatnya menjadi pribadi yang unggul dalam kesuksesan yang mampu diraih di dunia serta di akhirat dengan keridhaan ALLAH.

Oleh : Ayuni Sena
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi :
1. Khattab, Huda. 1993. The Muslim Woman's Handbook. London : Ta - Ha Publishers.
2. El-Bantanie, Muhammad Syafi'ie. 2010. Quantum Islam, Iman dan Ihsan. Solo : Tiga Serangkai.

Sumber Gambar :
1. https://cdn.pixabay.com/photo/2017/05/15/01/44/muslim-2313501_640.png

Minggu, 11 Februari 2018

Islam Memuliakan Perempuan

Sudah terbit di: https://steemit.com/pelitaillahi/@puncakbukit/islam-memuliakan-perempuan

Halo, sahabat pembaca yang budiman.

Islam adalah agama yang bersifat rahmatan lil alamin. Artinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Tidak hanya manusia saja, melainkan hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup lainnya di luar bumi yang kita huni ini. Islam adalah agama yang sudah terbukti keotentikan dan kebenarannya dari dahulu hingga sekarang. Walaupun Islam adalah agama yang paling benar di muka bumi ini, kita tidak boleh memaksa orang kafir masuk Islam dengan jalan kekerasan (laa ikraha fid-din).

Islam adalah agama universal. Ada banyak pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Namun penulis menyadari bahwa dalam catatan ini, penulis hanya ingin berbagi pengetahuan agar hidup kita saling menyinari satu sama lain. Dalam catatan ini, penulis fokus pada satu hal, yaitu, “Islam datang untuk mengangkat derajat dan martabat kaum perempuan”.



Sekilas sejarah kelam derajat kaum perempuan

Sebelum masa kenabian, atau lebih tepatnya nabi Muhammad belum diutus menjadi Rasul, terdapatlah suatu kaum yang mulia, yaitu kaum Quraisy. Kaum ini disegani oleh penduduk kota Mekah, tempat Rasulullah dilahirkan.

Dahulu di kota Mekah, budaya yang mengerikan adalah para orang Quraisy menganggap punya anak perempuan akan terlihat sebagai aib dan kelemahan bagi sebuah keluarga di mata orang lain. Namun sebaliknya, orang yang punya anak laki-laki akan merasa bangga dan dianggap mulia oleh keluarga lain. Berhubung dulu adalah masa jahiliyah (masa kebodohan), maka jika ada seorang keluarga Quraisy yang melahirkan anak perempuan, anak perempuan tersebut tidak akan diberi nama oleh ayahnya. Melainkan yang memberi nama adalah ibunya. Dan apabila anak perempuan tersebut sudah sampai umur remaja, ia boleh dijual untuk dijadikan budak, kalau tidak mau ia boleh dibunuh.

Astaghfirulloh. Melihat dan membayangkan kelakuan keji tersebut memberikan kita pelajaran bahwa orang jahiliyah dulu sangat kejam. Namun itu adalah peristiwa yang terjadi di masa sebelum nabi diutus menjadi Rasul. Masa di mana cahaya Islam belum masuk ke lubuk hati orang-orang Quraisy Mekah. Di tengah kegelapan tersebut, Allah memberikan petunjuk kepada kaum Quraisy di Mekah melalui keberadaan nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam.

Bersamaan dengan itu, derajat kaum perempuan tidak lagi direndahkan. Banyak ungkapan Islam yang memberikan gelar kemuliaan bagi kaum perempuan. Seperti contoh peran perempuan dalam pendidikan, seperti ungkapan, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak di rumah”, dan ada juga ungkapan “Surga dibawah telapak kaki ibu”. Bahkan nabi Muhammad pernah bersabda bahwa seorang anak harus mematuhi ibunya dengan panggilan tiga kali baru mematuhi ayahnya.

Persoalan warisan perempuan yang hanya separuh dari pria

Masalah pembagian warisan yang di dalam Al-Qur’an berupa “Perempuan mendapatkan separuh dari bagian laki-laki” adalah masalah yang seringkali muncul dan dianggap mengganggu bagi kehidupan kaum hawa, dan hal ini adalah wajar. Maka dari itu, penulis hendak mencoba memberikan solusi dan pencerahan, dengan harapan bisa membuat kaum hawa men-syukuri “bagian yang hanya separuh dari pria” sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an. Jadi, begini. Kita tahu bahwa dalam Islam, seorang wanita tidak memiliki kewajiban keuangan, sehingga tanggung jawab ekonomi terletak di pundak seorang pria. Sebelum seorang wanita menikah, adalah tugas dari ayah atau saudaranya untuk mengurusi kehidupan, pakaian, dan kebutuhan keuangan dari wanita itu.

Setelah dia menikah, itu menjadi tugas dari suami atau anak laki-lakinya. Dalam Islam, prialah yang bertanggung jawab secara finansial untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk dapat memenuhi tanggung jawab itu, maka laki-laki mendapatkan dua kali lipat bagian warisan. Sebagai contoh, jika seorang pria wafat meninggalkan sekitar $ 150.000, dan meninggalkan dua orang anak (yaitu satu putra dan satu putri). Jadi putranya mewarisi $ 100.000 dan putrinya hanya $ 50.000. Dari $ 100.000 yang diwarisi putranya, sebagai tugasnya terhadap keluarganya, ia mungkin harus menggunakan uangnya hampir seluruh jumlah atau katakanlah misalnya sekitar $ 80.000, dan dengan demikian hanya tersisa $ 20.000 dari warisan untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain, seorang putri, yang mewarisi $ 50.000, tidak bertanggung jawab untuk menggunakan sepeser pun pada siapa pun. Dia bisa menyimpan seluruh uangnya untuk dirinya sendiri. Apakah Anda lebih suka mewarisi $ 100.000 dan membelanjakan $ 80.000 dari itu, atau mewarisi $ 50.000 dan semuanya untuk Anda sendiri?

Di samping itu pula, penulis masih ingat jawaban Dosen yang saat mengajar kuliah di kelas tentang masalah “mengapa perempuan hanya dapat bagian separuh dari laki-laki?” dan jawabannya saya catat dan ingat sampai sekarang ini. Jawabannya atas permasalahan “mengapa perempuan hanya dapat bagian separuh dari laki-laki?” adalah kita harus melihat sejarah sebelum Islam.

“Jika tidak ada Islam, tentu derajat dan martabat perempuan akan selalu rendah dan direndahkan. Seperti di kubur hidup-hidup saat remaja seperti kisah sahabat Umar bin Khottob yang mengubur anak perempuannya sebelum masuk Islam. Jika tidak ada Islam, perempuan akan dijadikan budak seksual bagi manusia yang hanya berfikiran hawa nafsu tanpa aturan pernikahan yang sah”.

Semoga bermanfaat bagi kaum hawa. Wallohu a’lamu bishowab.

Penulis: Abdullah Muis
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber gambar:
https://pixabay.com/en/model-women-s-islam-muslim-2649605/
 
Template designed by Liza Burhan